Hikmah Di Malam Takbir

Banyumas 14 – Oktober – 2007 13:15 WIBHari lebaran untuk sebagian orang mungkin menjadi hari yang sangat membahagiakan, hari yang penuh keceriaan, hari yang penuh suka cita ( Hari kemenangan). Tapi tidak untuk seorang anak kecil yang aku temui dimalam takbir.Disaat malam takbir kemarin, aku sengajakan diri untuk keluar jalan-jalan menikmati malam yang penuh keagungan. Begitu tiba disuatu perempatan lampu merah (namanya perempatan Pasar Wage), aku berhenti (secara lampunya lagi nyala Merah). Tiba-tiba seorang anak kecil menghampiriku, dengan pakaian lusuh muka yang lelah tanpa alas kaki, dia menengadahkan tangan sambil mengatakan “Mas bagi rejekinya buat makan”. (Waktu itu jam menunjukan pkl 20:15) Secara spontan hatiku berucap “ Astaghfirulloh”, aku berpikir sejenak sambil meliat anak kecil itu dalam hati berucap “ Ya Alloh dimalam yang penuh kebahagiaan seperti malam ini ternyata tidak semuanya merasakan kebahagiaan itu”. Lalu aku bilang ke anak kecil itu “ De, sekarang ade minggir kesana dulu ya (aku nunjuk ke tepian lampu merah)”. Begitu lampu menyala hijau, aku tepikan motorku dan parkir tidak jauh dari perempatan itu. Aku hampiri anak kecil tadi dan aku suruh duduk. Kita berdua duduk santai dan terjadilah obrolan dengan anak yang malang itu.
( Obrolan di convert dari bhs banyumas ke bhs Indonesia)
A : “Namaya siapa de?”
D : “Arif mas”
A : “Umur kamu berapa?”
D : “6 tahun mas”
A : “Keluarga kamu dimana, malem takbir gini kok masih minta-minta dijalan?”
D : “Aku ga punya keluarga, ibu ama bapak dah meninggal”(sambil mainan uang receh yang ada dikantong permen)
A : “Ohhh..”( <
A : “Kamu klo tidur dimana Rif?”
D : “Disitu” (sambil nunjuk ke suatu tempat yang mengarah ke sebuah toko, mksdnya tidurnya di emperan toko)
A : “Udah makan?”
D : “Blm mas”
A : “Kamu punya uang berapa Rif?”
D : (sambil ngeluarin uang yang ada di kantong permenya, terus dihitung)”4650”
A : “Kamu laper?”
D : “Iya”
A : (Aku pengang tangan arif sambil aku ajak berdiri) “Ikut yuk”
Ket : A = Aku
D = Arif
Aku ajakin dia ke warung makan dengan motorku.
Sambil makan, aku liatin muka kecilnya yang kelelahan itu, dia makan dengan lahapnya (memang laper banget kali dia).
A : “Mau nambah?”
D : (menganggukan kepala artinya iya)
Sambil liatin Arif makan, aku berujar dalam hati “ Alhamdulillah, aku masih punya ayah ibu, masih punya keluarga, masih bisa merasakan kebahagiaan dihari lebaran ini. Tapi anak ini, apa iya dia masih punya kebahagiaan? Disaat anak-anak kecil seumuran dia bergembira menyambut hari lebaran dengan baju baru, makan enak. Apa iya diabisa merasakanya? Rp.100 demi Rp.100 dia kumpulkan untuk mengisi perutnya”
Sehabis makan, aku ajak si Arif jalan-jalan keliling menikmati suasana malem takbir. Apakah dia pernah merasakan kebahagiaan seperti ini? Aku tidak tahu, tapi semoga malam ini dia bisa menikmati malam lebaran seperti anak-anak yang lain. Ketika tiba di komplek pertokoan, aku terpikir untuk membelikan baju untuk si Arif. Aku memarkirkan motorku dan aku masuk ke sebuah toko pakaian.
Setelah memilih-memilih akhirnya aku belikan baju buat si Arif 2 pasang. Setelah keluar dari toko itu aku berencana ingin membawa dia ke seseorang yang mungkin bisa menolong dia agar tidak kembalike jalanan.
(Jam tanganku menunjukan pkl 22.45) Aku kendarai motorku bersama Arif menuju ketempat seorang ustadz yang aku sudah kenal dan cukup akrab dengan beliau. Namanya Ustadz Basri, beliau adalah salah seorang pengajar di pondok pesantren Kab. Banyumas. Setiba dirumahnya aku bertemu dengan istrinya, istrinya mengatakan kalau bapak lagi ada di masjid. Segerakan langkahku dan Arif menuju ke masjid dekat rumah pak ustadz. Alhamdulillah akhirya aku bertemu dengan beliau. Aku utarakan niatku menemui beliau dengan membawa Arif. Aku jelaskan semuanya tentang si Arif ke ustadz Basri. Aku ingin menitipkan si Arif ke ustadz Basri agar dimasukan ke ponpes tempat dia mengajar. Masalah biaya insyaAlloh aku menanggungnya walaupun ga sepenuhnya, tapi setidaknya bisa membantu.
Alhamdulillah ustadz Basri mau menerima dan membantu saya untuk memasukan Arif ke ponpes.
Akhirnya aku pergi meninggalkan Arif dan menuju rumahku (jam menunjukan pukul 23.30)
Sungguh malem takbir yang penuh hikmah, malam yang mungkin tidak akan pernah aku lupakan seumur hidupku. BAnyak pelajaran yang aku peroleh malam itu.
Tidak semua orang bisa merasakan kebahagiaan dihari lebaran ini. Disetiap rizki kita dan harta kita ada hak orang lain disana. Apakah pantas kita bermewah-mewah dihari lebaran dengan membeli baju yang mahal, disisi lain masih banyak anak-anak yatim piatu, anak-anak jalanan yang boro-boro mikir baju baru, untuk sekedar makanpun mereka bersusah payah.Jadi alangkah baiknya jika kita dapat bijak menggunakan harta dan rizki kita. Senantiasa Bersyukur dengan nikmat yang kita peroleh. Dan selalu ingatlah masih banyak anak-anak dan orang-orang diluar sana yang membutuhkan bantuan. Sisihkanlah sedikit hartamu untuk mereka. Tolong menolonglah kamu dalam kebaikan dan janganlah kamu tolong-menolong dalam keburukan.

5 thoughts on “Hikmah Di Malam Takbir

  1. Masya Allah masih banyak anak-anak yang menderita tanpa ayah dan tanpa ibu, tanpa ayah dan ibu dimana hati kita ??? nurani kita ???? haruskah rakyat ini menderita UUD> anak terlantar, yatim, piatu di urus oleh negara kapan lagi mengurus anak-anak setiap provinsi / daerah / kecamatan /kelurahan diadakan tempat penampungan anak-anak terlantar. semoga kisah ini banyak masyarakat yang peduli untuk menangani anak-anak terlantar pembiayaan dari APBN-APBD dan biaya donatur pengusaha, Sehingga tidak ada lagi ada di simpang-simpang jalan.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s