Funny pic

Posted in Posting on June 15, 2008 by ferikurniawan

Disaat kimi menjadi tua
Kimi Tua

Ada-ada aja si Kimi
Hahahahahhaa……Apaan Tuch…


Ga Boleh Parkir Mas!!!…ga liat apa


SUPERMAN is come…

New Finepix S700

Posted in Posting on June 13, 2008 by ferikurniawan

Kemarin gw jalan-jalan ke FKI (Festifal Komputer Indonesia) di JCC. Niatnya sih cuman liat-liat tapi kalo udah jalan-jalan dipameran ga lengkap klo belum beli barang. Masa cuman dapet capek doank…Akhirnya hunting dech kesana kemari, liat-liat laptop kesana kemari tapi aku ga terlalu tertarik dengan laptop yang ada dipameran secara lagi ga pengen beli laptop lagi. Keliling lagi tuch puter-puter sambil tanya-tanya sama SPG yang cuantik cuantik…nanya-nanya aja ga beliii…hehehehe. Setelah hampir 45 menitan di stand-stand laptop akhirnya berpindah dech ke bagian Festifal Selular Indonesia. Liat HP-HP jaman sekarang mulai dari pabrikan terkenal ampe pabrikan yg new brand di Indonesia. Klo dari stand-stand HP yang saya kunjungi, cukup rame juga stand-stand HP merek-merek Cina, Taiwan, dan Singapur. Ternyata orang banyak menanyakan HP dengan teknologi TV, disitulah keunggulan produk2 Cina itu. Ampe yang modelnya ga menarik ampe yang modelnya mirip Iphone juga ada. Gw smpet nyoba tuch yang mirip Iphone cuman gw lupa mereknya. Modelnya sih ok, tapi begitu nyalain..waduh menurut gw menunya ga banget dech, ada tv nya juga dual GSM tapi secara ga tertarik, tertariknya sama SPG nya yang nerangin…(mupeng mode on)…hehehehe. Pindah-pindah kesana kemari liat PDAPhone lumayan bagus sih OS nya juga WM06, Modelnya kaya HTC-HTC gitu..cuman ini dari merek baru Cina. Gw cobain, keren juga..tipis, kenceng, stylish. Harganya sekitar 2.750.000. Gw udah seneng banget tuch. Pas nanya ada barangnya ato ngga, kecewa yang didapetin.Katanya barangnya blm masuk Indonesia, itu baru barang sample katanya. Yahhhh…

Lumayan lama di stand-stand HP akhirnya memutuskan untuk pulang sambil mereview kembali semua stand. Eh pas mau keluar ada stand yang cukup menarik. Stand Kamera digital dari Fuji, mereka menawarkan harga yang cukup menarik. Setelah liat-liat barang yang ditawarkan akhirnya gw jatuh hati ke satu seri kamera digital Fuji Film yaitu FinePix S700. Dari modelnya gw langsung tertarik. Ga tahu gw fiturnya apa aja, secara gw awam masalah digicam. Akhirnya gw tanya-tanya ama SPG nya….#%$%$@%^%@%^%@^%^%#^. Akhirnya gw sedikit ngerti fitur-fitur dan keunggulan yang ada di S700 ini, gw niatin beli nih kamera dengan bandrol harga yang masih cukup dikantong. Cuman gw sbnenrnya pengen liat dulu reviewnya di Internet, secara gw belum tahu informasi nih kamera. Sebelum beli nih kamera gw coba googling dulu di JCC, sambil istirahat gw buka laptop dan ternyata banyak free hotspot…alhamdulillah. Langsung dech tancap gas..www.google.com….Dari review-review pengguna yang udah pake S700. Cukup worth it nih kamera. Stelah googling skitar 1/2 jam, langsung menuju ke ATM, ambil uang…beli dech tuch kamera. Jadi juga gw beli kamera….Ada hasil juga gw dateng ke pameran tahun ini….:)

Ada apa dengan bangsaku

Posted in Posting on June 2, 2008 by ferikurniawan

Setiap melihat berita di televisi pasti isinya ga jauh-jauh dari demo, kekerasan, dan juga BBM. Belum lagi BBM selesai, muncul lagi tuch yang namanya FPI (alias Front Pembela Islam ) yang kerjaanya nyerang orang yang ga salah apa-apa…Sesama orang Indonesia saja saling serang, gimana negara ini mau maju. Dimana rasa toleransinya dimana…sungguh sesuatu yang ironis, dikala bangsa kita sedang terpuruk menghadapi kekejaman BBM masih ada sekelompok orang yang saling menjatuhkan. Yang lebih memprihatinkan lagi adalah yang dibawa adalah atas nama agama. Kenapa kita malah saling serang sendiri seperti ini disaat bangsa membutuhkan persatuan antar rakyatnya. Apalagi hari minggu kemarin di Serang Banten ada orang yang namanya Tung Dasem nyebar duit lewat pesawat. Ngga habis pikir saya, klo memang mau niat memberi mbok ya memberinya dengan cara yang wajar diberikan kepada yang berhak, bukan disebar lewat pesawat seperti itu…orang-orang saling berebutan seperti ayam rebutan beras. Memang berat hidup di tanah air sendiri, tapi inilah hidup semua harus berjuang.Hidup Indonesia!!!!

Derita rakyat bangsa ini..

Posted in nations on May 28, 2008 by ferikurniawan

Baru beberapa hari ini BBM ( Bahan Bakar Minyak ) naek lagi, dampaknya sangat terasa bagi semua orang khususnya bagi rakyat kecil kaya saya ini. Yang kemana-mana naek kendaraan umum, semua tarif angkutan memang harus naik mau gimana lagi la wong BBM nya aja naik. Tapi kita memang harus memaklumi hal itu, sebagai para sopir kendaraan umum mereka juga mencari nafkah, kalau tidak naik mereka yang tekor. Biaya hidup memang semakin mencekik, tapi kita harus bertahan hidup bagaimanapun caranya. BBM yang sudah naik ya biarlah, itu kerjaan orang atas yang tidak melihat penderitaan orang kecil. Bahkan ada sebuah istilah yang menyebut BBM dengan sebutan ( Bola Bali Mundak). Pemerintah yang selama ini kita harap-harapkan untuk selalu mengayomi orang kecil malah kerjaanya selalu menyengsarakan. Yang kaya semakin kaya, yang miskin semakin miskin…Kesenjangan sosial di bumi Indonesia memang sangat jelas terlihat. Warga miskin semakin banyak, tapi orang yang punya mobil mewah juga semakin banyak. Heran…Disinilah kita di uji, bagaimana mensikapi setiap permasalahan yang datang, termasuk kenaikan BBM ini.

Wakil rakyat yang duduk di Senayan sana memang sudah tidak dapat diharapkan lagi. Telinga mereka sudah tertutup rapat dengan dinginya AC, empuknya kursi. Mereka sudah lupa dengan janji-janji mereka ketika berkampanye untuk mencari kursi di Senayan sana. Mahasiswa, masyarakat mau berdemo sekeras apapun tidak akan terdengar oleh para wakil rakyat kita yang ada didalam gedung sana. Gimana mau didengar.. demonya aja cuman didepan pagar, sedangnkan mereka ada di dalam gedung yang dingin sejuk, dan nyaman.Para wakil rakyat kita hanya mementingkan kepentingan partai bukan kepentingan rakyat. Apa pantas Gedung DPR disebut sebagai Gedung Wakil Rakyat jika didalamnya hanya orang-orang yang kerjaanya tidur, baca koran, jalan-jalan keluar negeri (pake duit negara alias duit rakyat)? Memang saya yakini tidak semua wakil rakyat seperti itu, tapi hampir semuanya seperti itu. Banyak kasus korupsi yang melibatkan para wakil rakyat kita di senayan. Bobrok sungguh bobrok bangsa ini, siapa lagi pengayom masyarakat kecil bila wakilnya saja tidak dapat dipercaya.

Pertanyaan hidup

Posted in Cerita Kehidupan on December 9, 2007 by ferikurniawan

Apa yang sebenernya aku cari didunia ini?

Sampai kapan aku diberi kesempatan untuk hidup didunia ini?

Bekal apa yang sudah aku persiapkan untuk kehidupan selanjutnya?

Sudah benarkah ibadahku?

Sudah siapkah aku jika sewaktu-waktu ajal menjemputku?

Hikmah Di Malam Takbir

Posted in Cerita Kehidupan on October 22, 2007 by ferikurniawan

Banyumas 14 – Oktober – 2007 13:15 WIBHari lebaran untuk sebagian orang mungkin menjadi hari yang sangat membahagiakan, hari yang penuh keceriaan, hari yang penuh suka cita ( Hari kemenangan). Tapi tidak untuk seorang anak kecil yang aku temui dimalam takbir.Disaat malam takbir kemarin, aku sengajakan diri untuk keluar jalan-jalan menikmati malam yang penuh keagungan. Begitu tiba disuatu perempatan lampu merah (namanya perempatan Pasar Wage), aku berhenti (secara lampunya lagi nyala Merah). Tiba-tiba seorang anak kecil menghampiriku, dengan pakaian lusuh muka yang lelah tanpa alas kaki, dia menengadahkan tangan sambil mengatakan “Mas bagi rejekinya buat makan”. (Waktu itu jam menunjukan pkl 20:15) Secara spontan hatiku berucap “ Astaghfirulloh”, aku berpikir sejenak sambil meliat anak kecil itu dalam hati berucap “ Ya Alloh dimalam yang penuh kebahagiaan seperti malam ini ternyata tidak semuanya merasakan kebahagiaan itu”. Lalu aku bilang ke anak kecil itu “ De, sekarang ade minggir kesana dulu ya (aku nunjuk ke tepian lampu merah)”. Begitu lampu menyala hijau, aku tepikan motorku dan parkir tidak jauh dari perempatan itu. Aku hampiri anak kecil tadi dan aku suruh duduk. Kita berdua duduk santai dan terjadilah obrolan dengan anak yang malang itu.
( Obrolan di convert dari bhs banyumas ke bhs Indonesia)
A : “Namaya siapa de?”
D : “Arif mas”
A : “Umur kamu berapa?”
D : “6 tahun mas”
A : “Keluarga kamu dimana, malem takbir gini kok masih minta-minta dijalan?”
D : “Aku ga punya keluarga, ibu ama bapak dah meninggal”(sambil mainan uang receh yang ada dikantong permen)
A : “Ohhh..”( <
A : “Kamu klo tidur dimana Rif?”
D : “Disitu” (sambil nunjuk ke suatu tempat yang mengarah ke sebuah toko, mksdnya tidurnya di emperan toko)
A : “Udah makan?”
D : “Blm mas”
A : “Kamu punya uang berapa Rif?”
D : (sambil ngeluarin uang yang ada di kantong permenya, terus dihitung)”4650”
A : “Kamu laper?”
D : “Iya”
A : (Aku pengang tangan arif sambil aku ajak berdiri) “Ikut yuk”
Ket : A = Aku
D = Arif
Aku ajakin dia ke warung makan dengan motorku.
Sambil makan, aku liatin muka kecilnya yang kelelahan itu, dia makan dengan lahapnya (memang laper banget kali dia).
A : “Mau nambah?”
D : (menganggukan kepala artinya iya)
Sambil liatin Arif makan, aku berujar dalam hati “ Alhamdulillah, aku masih punya ayah ibu, masih punya keluarga, masih bisa merasakan kebahagiaan dihari lebaran ini. Tapi anak ini, apa iya dia masih punya kebahagiaan? Disaat anak-anak kecil seumuran dia bergembira menyambut hari lebaran dengan baju baru, makan enak. Apa iya diabisa merasakanya? Rp.100 demi Rp.100 dia kumpulkan untuk mengisi perutnya”
Sehabis makan, aku ajak si Arif jalan-jalan keliling menikmati suasana malem takbir. Apakah dia pernah merasakan kebahagiaan seperti ini? Aku tidak tahu, tapi semoga malam ini dia bisa menikmati malam lebaran seperti anak-anak yang lain. Ketika tiba di komplek pertokoan, aku terpikir untuk membelikan baju untuk si Arif. Aku memarkirkan motorku dan aku masuk ke sebuah toko pakaian.
Setelah memilih-memilih akhirnya aku belikan baju buat si Arif 2 pasang. Setelah keluar dari toko itu aku berencana ingin membawa dia ke seseorang yang mungkin bisa menolong dia agar tidak kembalike jalanan.
(Jam tanganku menunjukan pkl 22.45) Aku kendarai motorku bersama Arif menuju ketempat seorang ustadz yang aku sudah kenal dan cukup akrab dengan beliau. Namanya Ustadz Basri, beliau adalah salah seorang pengajar di pondok pesantren Kab. Banyumas. Setiba dirumahnya aku bertemu dengan istrinya, istrinya mengatakan kalau bapak lagi ada di masjid. Segerakan langkahku dan Arif menuju ke masjid dekat rumah pak ustadz. Alhamdulillah akhirya aku bertemu dengan beliau. Aku utarakan niatku menemui beliau dengan membawa Arif. Aku jelaskan semuanya tentang si Arif ke ustadz Basri. Aku ingin menitipkan si Arif ke ustadz Basri agar dimasukan ke ponpes tempat dia mengajar. Masalah biaya insyaAlloh aku menanggungnya walaupun ga sepenuhnya, tapi setidaknya bisa membantu.
Alhamdulillah ustadz Basri mau menerima dan membantu saya untuk memasukan Arif ke ponpes.
Akhirnya aku pergi meninggalkan Arif dan menuju rumahku (jam menunjukan pukul 23.30)
Sungguh malem takbir yang penuh hikmah, malam yang mungkin tidak akan pernah aku lupakan seumur hidupku. BAnyak pelajaran yang aku peroleh malam itu.
Tidak semua orang bisa merasakan kebahagiaan dihari lebaran ini. Disetiap rizki kita dan harta kita ada hak orang lain disana. Apakah pantas kita bermewah-mewah dihari lebaran dengan membeli baju yang mahal, disisi lain masih banyak anak-anak yatim piatu, anak-anak jalanan yang boro-boro mikir baju baru, untuk sekedar makanpun mereka bersusah payah.Jadi alangkah baiknya jika kita dapat bijak menggunakan harta dan rizki kita. Senantiasa Bersyukur dengan nikmat yang kita peroleh. Dan selalu ingatlah masih banyak anak-anak dan orang-orang diluar sana yang membutuhkan bantuan. Sisihkanlah sedikit hartamu untuk mereka. Tolong menolonglah kamu dalam kebaikan dan janganlah kamu tolong-menolong dalam keburukan.

Delapan Kebohongan Seorang Ibu Dalam Hidupnya

Posted in Religi on October 8, 2007 by ferikurniawan

Dalam kehidupan kita sehari-hari, kita percaya bahwa kebohongan akan
membuat manusia terpuruk dalam penderitaan yang mendalam, tetapi kisah
ini justru sebaliknya. Dengan adanya kebohongan ini, makna sesungguhnya dari kebohongan ini justru dapat membuka mata kita dan terbebas dari penderitaan, ibarat sebuah energi yang mampu mendorong mekarnya sekuntum bunga yang paling indah di dunia.

Cerita bermula ketika aku masih kecil, aku terlahir sebagai seorang anak laki-laki di sebuah keluarga yang miskin. Bahkan untuk makan saja, seringkali kekurangan. Ketika makan, ibu sering memberikan porsi nasinya untukku. Sambil memindahkan nasi ke mangkukku, ibu berkata : “Makanlah nak, aku tidak lapar” ———- KEBOHONGAN IBU YANG PERTAMA

Ketika saya mulai tumbuh dewasa, ibu yang gigih sering meluangkan waktu senggangnya untuk pergi memancing di kolam dekiat rumah, ibu berharap dari ikan hasil pancingan, ia bisa memberikan sedikit makanan bergizi untuk petumbuhan. Sepulang memancing, ibu memasak sup ikan yang segar dan mengundang selera. Sewaktu aku memakan sup ikan itu, ibu duduk disamping ku dan memakan sisa daging ikan yang masih menempel di tulang yang merupakan bekas sisa tulang ikan yang aku makan. Aku melihat ibu seperti itu, hati juga tersentuh, lalu menggunakan sumpitku dan memberikannya kepada ibuku. Tetapi ibu dengan cepat menolaknya, ia berkata : “Makanlah nak, aku tidak suka makan ikan” ———- KEBOHONGAN IBU YANG KEDUA

Sekarang aku sudah masuk SMP, demi membiayai sekolah abang dan kakakku, ibu pergi ke koperasi untuk membawa sejumlah kotak korek api untuk ditempel, dan hasil tempelannya itu membuahkan sedikit uang untuk menutupi kebutuhan hidup. Di kala musim dingin tiba, aku bangun dari tempat tidurku, melihat ibu masih bertumpu pada lilin kecil dan dengan gigihnya melanjutkan pekerjaanny menempel kotak korek api. Aku berkata :”Ibu, tidurlah, udah malam, besok pagi ibu masih harus kerja.” Ibu tersenyum dan berkata :”Cepatlah tidur nak, aku tidak capek” ———- KEBOHONGAN IBU YANG KETIGA

Ketika ujian tiba, ibu meminta cuti kerja supaya dapat menemaniku pergi ujian. Ketika hari sudah siang, terik matahari mulai menyinari, ibu yang tegar dan gigih menunggu aku di bawah terik matahari selama beberapa jam. Ketika bunyi lonceng berbunyi, menandakan ujian sudah selesai. Ibu dengan segera menyambutku dan menuangkan teh yang sudah disiapkan dalam botol yang dingin untukku. Teh yang begitu kental tidak dapat dibandingkan dengan kasih sayang yang jauh lebih kental. Melihat ibu yang dibanjiri peluh, aku segera memberikan gelasku untuk ibu sambil menyuruhnya minum. Ibu berkata :”Minumlah nak, aku tidak haus!” ———- KEBOHONGAN IBU YANG KEEMPAT

Setelah kepergian ayah karena sakit, ibu yang malang harus merangkap sebagai ayah dan ibu. Dengan berpegang pada pekerjaan dia yang dulu, dia harus membiayai kebutuhan hidup sendiri. Kehidupan keluarga kita pun semakin susah dan susah. Tiada hari tanpa penderitaan. Melihat kondisi keluarga yang semakin parah, ada seorang paman yang baik hati yang tinggal di dekat rumahku pun membantu ibuku baik masalah besar maupun masalah kecil. Tetangga yang ada di sebelah rumah melihat kehidupan kita yang begitu sengsara, seringkali menasehati ibuku untuk menikah lagi. Tetapi ibu yang memang keras kepala tidak mengindahkan nasehat mereka, ibu berkata : “Saya tidak butuh cinta” ———-KEBOHONGAN IBU YANG KELIMA

Setelah aku, kakakku dan abangku semuanya sudah tamat dari sekolah dan
bekerja, ibu yang sudah tua sudah waktunya pensiun. Tetapi ibu tidak mau, ia rela untuk pergi ke pasar setiap pagi untuk jualan sedikit sayur untuk memenuhi kebutuhan hidupnya. Kakakku dan abangku yang bekerja di luar kota sering mengirimkan sedikit uang untuk membantu memenuhi kebutuhan ibu, tetapi ibu bersikukuh tidak mau menerima uang tersebut. Malahan mengirim balik uang tersebut. Ibu berkata : “Saya punya duit” ———-KEBOHONGAN IBU YANG KEENAM

Setelah lulus dari S1, aku pun melanjutkan studi ke S2 dan kemudian memperoleh gelar master di sebuah universitas ternama di Amerika berkat sebuah beasiswa di sebuah perusahaan. Akhirnya aku pun bekerja di perusahaan itu. Dengan gaji yang lumayan tinggi, aku bermaksud membawa ibuku untuk menikmati hidup di Amerika. Tetapi ibu yang baik hati, bermaksud tidak mau merepotkan anaknya, ia berkata kepadaku “Aku tidak terbiasa” ———-KEBOHONGAN IBU YANG KETUJUH

Setelah memasuki usianya yang tua, ibu terkena penyakit kanker lambung, harus dirawat di rumah sakit, aku yang berada jauh di seberang samudra atlantik langsung segera pulang untuk menjenguk ibunda tercinta. Aku melihat ibu yang terbaring lemah di ranjangnya setelah menjalani operasi. Ibu yang keliatan sangat tua, menatap aku dengan penuh kerinduan. Walaupun senyum yang tersebar di wajahnya terkesan agak kaku karena sakit yang ditahannya. Terlihat dengan jelas betapa penyakit itu menjamahi tubuh ibuku sehingga ibuku terlihat lemah dan kurus kering. Aku sambil menatap ibuku sambil berlinang air mata. Hatiku perih, sakit sekali melihat ibuku dalam kondisi seperti
ini. Tetapi ibu dengan tegarnya berkata : “Jangan menangis anakku, Aku tidak kesakitan” ———-KEBOHONGAN IBU YANG KEDELAPAN.

Setelah mengucapkan kebohongannya yang kedelapan, ibuku tercinta
menutup matanya untuk yang terakhir kalinya.


Dari cerita di atas, saya percaya teman2 sekalian pasti merasa tersentuh dan ingin sekali mengucapkan : ” Terima kasih ibu ! ” Coba dipikir2 teman, sudah berapa lamakah kita tidak menelepon ayah ibu kita? Sudah berapa lamakah kita tidak menghabiskan waktu kita untuk berbincang dengan ayah ibu kita? Di tengah-tengah aktivitas kita yang padat ini, kita selalu mempunyai beribu-ribu alasan untuk meninggalkan ayah ibu kita yang kesepian. Kita selalu lupa akan ayah dan ibu yang ada di rumah.
coba kita renungkan kembali lagi.. Di waktu kita masih mempunyai kesempatan untuk membalas budi ortu kita, lakukanlah yang terbaik. Jangan sampai ada kata “MENYESAL” di kemudian hari.

Sebuah Renungan, Teguran, Sekaligus Doa

Posted in Religi on October 8, 2007 by ferikurniawan

Kawan, hidup ini ternyata,tidak sekedar mengejar cita-cita pribadi saja
Di luar sana masih banyak orang tidak punya rumah
Masih banyak orang yg bahkan tidak tahu apakah besok pagi dia masih bisa makan
Masih banyak anak-anak yang bahkan tidak tahu sampai kapan mereka akan terus tidur beratapkan langit yang bahkan terkadang memuntahkan air dan beralaskan tanah yang keras

Masih banyak mereka yang masa depannya tidak jelas
Tapi sayangnya kita sering lupa akan hal itu

Seringkali kita hanya ingat dan berempati hanya saat penderitaan mereka disodorkan depan muka kita. Selebihnya, mungkin kita lupa. Padahal seharusnya kita lah yang mencari tahu. Kita yang mencari fakta-fakta, bukan menunggu untuk ditemukan oleh fakta. Tapi sayangnya, kenyataan yang sering terjadi adalah kita hanya menunggu.

Masih banyak mereka yang tidak mandi karena alasan-alasan yang mungkin bagi kita mudah saja, seperti air bersih, sabun, dll. Sedangkan kita pun mungkin secara sadar maupun tidak sering membuang-buang air bersih atau memiliki banyak sabun yang tidak terpakai. Masih banyak mereka yg tidak memiliki baju selain yang menempel di tubuh mereka dan kita masih sempat mengeluh ngeluh karena baju kotor yang menumpuk? Ingatlah kawan..itu artinya kita beruntung memiliki banyak baju.

Masih banyak mereka yang tidak memiliki orang tua dan kita terkadang sering menggerutu hanya karena ditegur orang tua?
Ingatlah kawan..itu artinya kita beruntung karena masih diizinkan Allah untuk mewujudkan rasa sayang dan membalas kebaikan orang tua kita.
Seringkali kita mengeluh dan mengomel karena kelelahan berjalan kaki. Ingatlah kawan..itu artinya kita masih punya kaki dan tubuh yang berfungsi dengan baik.

Apapun yang terjadi..
Seburuk apapun keadaan kita,,cobalah kita pandang dari sudut pandang yang berbeda
Dan kita akan menemukan dan pada akhirnya mengerti cara Allah menyayangi, mendidik, dan memberi yang terbaik untuk kita
Because we are loved

Tapi kenapa kita sering lupa?
Kenapa kita sering tidak berinfaq jika tidak diminta?
Kenapa tidak mencari tahu di mana kita bisa berinfak?

Kawan..
Hidup tidak hanya bersemangat berprestasi dalam bidang akademik, organisasi, atau pekerjaan
Semua itu bagus sekali namun semangat dan prestasi luar biasa itu tidak ada artinya bila implementasinya sama dengan nol
Tidak ada artinya bila ternyata kita sampai lupa dengan orang-orang di luar sana
Mereka yang menjadi korban kemerdekaan yang blum merdeka
Mereka yang menjadi korban para pejabat yg bagai kacang lupa kulitnya itu
Mereka yang terlupakan, mereka yg dibohongi, mereka yg tertindas, mereka yg terjajah oleh ‘kemerdekaan’ negeri ini

Kawan..
Bersyukurlah punya banyak makanan
Banyak sekali orang yg kelaparan di dunia ini
Di Ethiopia, India, Indonesia, atau bahkan mungkin beberapa meter dari tempat kita duudk saat ini
Jadi ingatlah kawan..Jangan sampai kita membiarkan makanan membusuk di kulkas atau menjadi basi di dalam lemari / tudung saji

Kawan..
Mari kita luangkan waktu..,,untuk bersyukur
Ya, untuk bersyukur
Karena selalu harus ada waktu untuk bersyukur
Jangan sampai kita bersikap tidak tahu diri
Jangan sampai kita rutin mengucapkan terima kasih kepada teman-teman namun tidak ingat untuk berterima kasih kepada Allah

Kawan…
Mari kita menghargai setiap waktu yang terlewat karena waktu tidak dapat berputar kembali
Bahkan Leonardo Da Vinci pernah menyatakan keheranannya mengenai manusia yangg sering tidur. Ia berpendapat manusia hidup tersebut seperti  orang mati saja karena apa bedanya orang yang msh hidup dengan yang sudah meninggal apabila yang hidup juga tidak melakukan apa-apa (baca: sia2)?

Kawan..
Lihat ke negeri Palestina sana
Ke negeri para bayi yang terlahir untuk hidup di surga
Ke negeri yg para penghuninya waspada setiap saat terhadap pengeboman, penjarahan, pembunuhan, dan segala ketidakadilan yg dilakukan oleh orang2 yg mengatasnamakan perebutan kembali tanah milik mereka
Ke negeri yang pedih karena para muslim yg seharusnya bertitel saudara tidak bertindak sepertt saudara (baca: tidak mendukung)

Kawan..
Skali lagi, ingatlah..
Kita harus peka
Selalu lihat ke bawah tapi jangan lupa lihat ke atas juga
Selalu lihat ke depan tapi sesekali jangan lupa untuk menoleh ke belakang juga
In order to be a better person, we can’t improve urself only without caring 4 others

Kawan..bayangkanlah kesepiannya mereka yang tidak memiliki keluarga, mereka yg dimusuhin, dikucilkan, apalagi  kesepian dan kepedihan orang-orang yang ditinggal mati kluarganya yang terbunuh di depan mata merekaKawan…
Jangan terlalu sedih walaupun kadang orang suka meremehkan kita
Di belahan dunia di sebelah mana pun, banyak sekali orang-orang terbuang yg mungkin jauuuuhh lebih tersakiti daripada kita
Mereka dianggap hina
Mereka dipandang rendah
Entah berapa banyak cacian yg sudah mereka dengar
Perlakuan kasar yang mereka dapat juga tak terhitung
Lihatlah semuanya lebih dekat..dan kita akan sadar betapa sempurnanya hidup kita, paling tidak bagi diri kita sendiri

Saat Maut Menjemput

Posted in Religi on October 8, 2007 by ferikurniawan

Sesosok tubuh berselimut kain putih terbujur kaku. Disekelilingnya terlihat sanak saudara saling berangkulan, dan sesekali terdengar sesegukkan diiringi tetesan air mata kepiluan, keheningan dan kesedihan yang teramat dalam. Sayup-sayup terdengar lantunan ayat suci Al Qur’an dari beberapa orang yang hadir menambah kepiluan mereka yang ditinggalkan. Hari ini, satu lagi saudara kita menghadap Rabb-nya, tidak peduli ia siap atau tidak. Innalillaahi wa inna ilaihi raaji’uun.

Saudaraku, setiap yang hidup akan merasakan mati. Hal itu termaktub dengan tegas dan lugas dalam kitab-Nya. Maka, bekal apa yang sudah kita persiapkan untuk menyambut maut yang kedatangannya tidak diketahui namun pasti itu. Saat seorang saudara kita mendapatkan gilirannya untuk menghadap Sang Khaliq, saat kita melihat tubuhnya membujur kaku, saat ia terbungkus kain putih bersih, saat tubuh tanpa nyawa itu diusung untuk dibawa ketempat peradilan utama atas setiap amalnya, dan saat kita bersama-sama menanamkan jasadnya ke dalam tanah merah serta menimbunkan tanah dan bebatuan diatas tubuhnya, sadarkah kita bahwa giliran kita akan tiba, bahwa waktu kita semakin dekat.

Saudaraku, pernahkah membayangkan betapa dahsyatnya maut menjemput, kita harus meregang nyawa saat Izrail pesuruh Allah menarik nyawa manusia perlahan-lahan untuk memisahkan dari jasadnya. Ketahuilah, Rasulullah manusia kecintaan Allah dan para malaikat-pun menjerit keras merasakan pedihnya sakaratul maut. Dan saat lepas ruh dari jasad, mata kita yang terbuka lebar dan menatap keatas, mengisyaratkan ketidakrelaan kita meninggalkan keindahan dunia atau mungkin isyarat ketakutan yang teramat sangat akan ganjaran yang akan diterimanya di akhirat.

Saudaraku, bayangkan jika saudara yang baru saja kita saksikan prosesi pemakamannya itu adalah diri kita sendiri, bayangkan juga jika yang terbujur kaku terbungkus kain putih itu adalah diri kita yang saat ini tengah menikmati indahnya dunia, kita begitu rapuh, tidak berdaya dan takkan bisa berbuat apa-apa yang dapat menolong kita dari peradilan Allah, kita hanya diam dan membisu dan membiarkan seluruh tubuh kita bersaksi didepan Allah dan para malaikat-Nya atas waktu dan kesempatan yang diberikan, dan kita hanya bisa menunggu keputusan yang akan diberikan Allah.

Saudaraku, saat itu kita harus rela menerima keputusan dan menjalankan balasan atas segala perbuatan. Tentu tidak ada tawar-menawar, negosiasi, permohonan maaf, belas kasihan, bahkan air mata pun tidak berlaku dan tidak membuat Allah membatalkan keputusan-Nya. Karena kesempatan untuk semua itu sudah diberikan saat kita hidup didunia, hanya saja kita tidak pernah mengambil dan memanfaatkan waktu dan kesempatan yang ada untuk tunduk, takut, menangis berharap akan ampunan-Nya. Tidak saudaraku, semua itu sudah lewat.

Saudaraku, saat tubuh kita terusung diatas kepala para sanak dan kerabat yang menghantarkan kita ke tanah peradilan, tahukah kita bahwa saat itu kita berada dipaling atas dari semua yang hadir dan berjalan, tubuh dan wajah kita menghadap kelangit, itu semata untuk memberitahukan bahwa kita semakin dekat untuk memenui Allah. Tentu kita harus berterima kasih, karena masih ada orang-orang yang mau mengangkat tubuh kita dan mau bersusah-susah menghantarkan, menanam bahkan membiayai prosesi pemakaman kita. Bayangkan jika kita meninggalkan dunia ini dalam keadaan su’ul khotimah, sehingga semua orang memalingkan mukanya dari muka penuh kotor dan nista ini. Saat itu, tentu tak satupun dari orang-orang yang masih hidup menangisi kepergian kita bahkan mereka bersyukur. Na’udzubillaahi min dzaalik

Saudaraku, kita tentu juga mesti bersyukur saat Allah mengizinkan tanah- tanah merah yang juga makhluk Allah itu menerima jasad kita. Padahal jika tanah-tanah itu berkehendak -atas seizin Allah- ia akan menolak jasad kita karena kesombongan kita berjalan dimuka bumi. Jika ia mau, ia tentu berkata, “Wahai manusia sombong, ketahuilah bahwa tanah ini disediakan hanya untuk orang-orang yang tunduk”. Ia juga bisa mengadukan keberatannya kepada Tuhannya untuk tidak mau menerima jasad manusia-manusia yang dengan sewenang-wenang dan serakah menikmati hasil bumi. Tanah-tanah itu juga tentu bisa berteriak, “Enyahlah kau wahai jasad penuh dosa, tanah ini begitu suci dan hanya disediakan untuk orang-orang yang beriman” Tapi, atas kehendak Allah jualah mereka tidak melakukan itu semua. Namun, tentu saat itu sudah terlambat bagi kita untuk menyadari kesalahan, dan kekhilafan.

Oleh karena itu saudaraku, saat sekarang Allah masih memberikan waktu dan kesempatan, saat sekarang kita tengah menunggu giliran untuk menghadap-Nya, ingatlah selalu bahwa setiap yang hidup pasti merasakan mati. Saat kita mengantar setiap saudara yang mati, jangan tergesa-gesa untuk kembali ke rumah, tataplah sejenak sekeliling kita, disana terhampar luas bakal tempat kita kelak, ya, tanah-tanah merah itu sedang menunggu jasad kita. Tapi, sudahkah semua bekal kita kantongi dalam tas bekal kita yang saat ini masih terlihat kosong itu?

Nasib si Skripsi

Posted in Posting on June 17, 2006 by ferikurniawan

hehehehehe ……..gila kali gw ya…ngga dink.Udah hampir 4 bulan lebih skripsi gw ga jadi2 dan ga tahu gimana nasibnya. Gw bingung ga tahu harus gimana lagi ama skripsi gw entuh,bingung dah pokoknya. Kerjaan gw sekarang malah maen game mulu ntu tuh Dota AllStar. Geblek…nasib nasib ya nasib…udah ah pusing gw. tapi gw optimis klo skripsi gw bakal jadi sebelum akhir tahun 2006…..kapan ya???????????